May 10, 2023 from Firda Amalia Putri
#

Tahukah kamu bahwa bulan April identik dengan peringatan Hari Bumi?  Jika #CarbonFriends baru dengar atau malah belum tahu, yuk simak tulisan berikut sampai selesai. Singkatnya, Hari Bumi Sedunia merupakan hari pengamatan tentang Bumi yang diperingati secara internasional setiap tahunnya pada tanggal 22 April. Hari Bumi pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet yang ditinggali oleh manusia saat ini yaitu Bumi.


Mengapa kita harus memiliki kesadaran terhadap Bumi yang kita tinggali? Kenapa pula kita harus meningkatkan apresiasi? Memangnya ada apa dengan bumi kita? 


Pertama-tama Carbon Friends mungkin sudah sering mendengar mengenai perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya. Salah satu dampak terburuknya adalah bisa menghancurkan planet yang kita tempati. Untuk itu, di bulan  peringatan hari  bumi ini yuk kita sama-sama menjaga bumi agar tetap kuat, sehat dan berumur panjang. 


Carbon Friends tak perlu khawatir harus melakukan hal hal besar untuk menjaga bumi. Dimulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari juga bisa kok, karena yang namanya perubahan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Jadi kamu gak perlu merasa cemas tidak bisa langsung membuat perubahan drastis dalam dirimu untuk menerapkan hidup go green atau sustainable living. 


Mengenal Fast Fashion dan Dampak yang Ditimbulkannya


Salah satu upaya yang bisa Carbon Friends lakukan untuk berkontribusi menjaga bumi adalah dengan mengurangi belanja pakaian fast fashion, apalagi jika tidak dibutuhkan. Mengapa dan apa alasannya? 


Secara singkat fast fashion didefinisikan sebagai produk industri garmen yang ditujukan untuk jangka waktu pemakaian yang singkat dan diproduksi dalam jumlah besar. Alih-alih untuk menekan harga produksi, produk fast fashion ini justru berpotensi menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan karena produk ini akan secara cepat digantikan oleh produk keluaran terbaru. Limbah tekstil ini kemudian bisa menyebabkan polusi air, polusi udara dan bisa menumpuk di TPA yang pada akhirnya dapat menyumbang emisi gas rumah kaca yang besar. Namun sayangnya tidak banyak pihak yang menaruh perhatian pada limbah fast fashion ini.


Nah, sampai sini apakah Carbon Friends sudah merasa cemas dengan masa depan bumi kita? Jika belum, mungkin data dan fakta yang ada saat ini bisa meyakinkan kita untuk lebih berkesadaran saat berbelanja fashion nantinya. 


Industri tekstil merupakan salah satu industri besar di Indonesia. Industri ini mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 15,29% menurut data dari Badan Pusat Statistik 2019. Dalam proses produksinya, industri tekstil berkontribusi menghasilkan polusi air dan gas emisi terbanyak kedua setelah industri perminyakan. 


Lalu apa sajakah ancaman dari limbah fashion


Di balik gemerlapnya panggung fashion dunia, ada sisi gelap industri fashion yang tak banyak kita sadari. Berikut adalah beberapa contoh di antaranya


  1. Merujuk pada UN Conference of Trade and Development (UNCTD) 2019, fashion disebut sebagai industri paling berpolusi kedua di dunia, setelah industri perminyakan. Sekitar 10% dari emisi karbon yang mempengaruhi krisis iklim dihasilkan dari industri fashion.

  2. Studi yang dilakukan Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Februari 2022 lalu, menemukan sebanyak 70 persen bagian tengah Sungai Citarum tercemar mikro plastik, berupa serat benang polyester. Hal tersebut diperkuat dengan keberadaan industri tekstil di kawasan tersebut. Data ini diperkuat dengan catatan dari Nexus3Foundation  yang menunjukkan bahwa terdapat sekitar 1.000 pabrik garmen yang membuang sisa bahan kimia hasil produksi pakaian ke sungai Citarum.


Tahun 2018 kemarin, Zero Waste Indonesia membuat penelitian dengan kesimpulan bahwa jumlah limbah tekstil yang mendominasi polutan di lautan bahkan lebih banyak dari sampah plastik. Tidak hanya itu, untuk wilayah Jakarta sendiri terdapat catatan dari majalah National Geographic, Maret 2020: The End of The Trash menunjukkan bahwa dari 57% sampah yang ada, sekitar 8,2% di antaranya adalah berupa limbah tekstil.


Apa yang Membuat Industri Fashion Sangat Tidak Ramah terhadap Lingkungan?

  • Dibutuhkan hampir 2.700 liter air untuk membuat satu kaos katun

  • Satu potong jeans membutuhkan 7.500 liter air. Ini setara dengan rata-rata jumlah air minum yang kita konsumsi selama tujuh tahun.

  • Jumlah emisi karbon dari industri fashion lebih besar daripada total emisi yang dihasilkan dari gabungan industri jasa pengiriman dan penerbangan.


Merujuk pada Orsola de Castro, pendiri dari Fashion Revolution, ia mengungkapkan bahwa bisnis fast fashion telah menyumbangkan limbah ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Bukan hanya itu saja, industri ini juga menjadi penyebab penurunan jumlah populasi hewan tertentu, sebab beberapa produk fast fashion menggunakan kulit hewan seperti ular, macan, dan lain sebagainya.


Mulai hidup berkesadaran dengan sustainable fashion

Tak dapat dimungkiri bila pakaian merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia. Namun, dewasa ini pakaian tak hanya dimaknai dari segi fungsinya, tetapi juga dari sisi estetika dan gengsi.


Kemudahan dalam membeli pakaian mengubah cara orang dalam memperlakukan benda yang dibeli. Karena mudah dibeli dan harganya murah, orang tak segan membuang pakaian yang sudah tak menarik atau ketinggalan zaman begitu saja.

Banyaknya sampah dari industri mode ini pun meresahkan banyak pihak dan kemudian melahirkan sebuah gerakan yang disebut sustainable fashion demi menyelamatkan bumi dari sampah-sampah produk fesyen dan perilaku produsen tak bertanggung jawab. Singkatnya sustainable fashion atau mode berkelanjutan merupakan sebuah praktik yang beretika untuk menjaga lingkungan dan memiliki misi menyelamatkan bumi dari sampah-sampah industri mode yang tidak terurai dan perilaku produsen tak bertanggung jawab yang menjalankan konsep fast fashion.

Setelah membaca penjelasan di atas apakah Carbon Friends tidak merasa sayang menumpuk pakaian di lemari yang ternyata dapat memberikan dampak buruk terhadap bumi kita. Meskipun hari bumi dirayakan setiap tanggal 22 April, tetapi bukan berarti kita hanya merayakannya di hari itu saja, karena pemaknaan dari peringatan hari bumi sendiri adalah untuk mengubah perilaku manusia dan menciptakan perubahan dalam tatanan kebijakan  lokal, nasional, dan global. 


Perubahan itu bisa kita mulai kapan pun, dimana pun dan dengan cara apa pun . Hidup berkesadaran dengan sustainability fashion menjadi salah satu upaya kecil yang mampu memberikan dampak besar.



Referensi:


5 min reading, Link